Senin, 24 Oktober 2011

Jembatan Dua Cinta

                                                 By: Syaidah Nirmala
        
  Satu hal yang patut Mahmud  syukuri , sudah dua hari Hameda tinggal bersama umminya. Itu artinya mereka tinggal serumah . Meskipun Hameda terkesan selalu menghindar setiap kali berpapasan . Mahmud sendiri mulanya begitu sulit menerima, saat tahu bahwa Hameda adalah adik kandungnya.

            Ia hanya merindukan sebuah nama , Zahra , dan berbekal satu nama dari sosok yang telah mengukir jati dirinya , Mahmmud meninggalkan mesir , menuju turki.
Lalu hanim mengucapkan salam , tak ada jawaban apa – apa . Zahra Hanim terlihat seperti ketakutan , ia segera menyerahkan ponselnya kepada Mahmud dan ia berkata : “ kau tak berhak menanyaiku seperti itu ! “ Mahmud terlihat geram , namun ia menahan gejola emosinya.

            “ Dia ingin bertemu malam ini , “ Mahmud memandangi mata Zahra hanim.
Mahmud besiap – siap bertolak menuju  kea rah Galata Lokanta.
Dan lalu berangktlah , Mahmud , hati – hatilah ! suara hanim manta , meski terkesan sangat mencemaskan keslamatan Mahmud . Lalu Mahmud meinta izin kepada ummi untuk menemui Zahra Hanim Mahmud pergi menggunakan dolmus.
Tiba – tiba ia teringat umminya . Di tempat inilah untuk pertama kali ia bertemu dengan orang yang sangat di cintainnya . Dan di tempat ini pula ia bertemu dengan orang , yang membuatnya terpakas , menimbulkan dari hatinya rasa benci.

            Kemudian ia bertemu , berkenalan , berbincang dan makan bersama.  Murat tersenyum, Mahmud heran melihat senyum laki – laki  itu . Ia seolah menemukan orang yang lain. Sangat berbeda dengan laki- laki itu yang ia temui beberapa waktu yang  lalu di rumah tempat ia, Ummi dan Hameda disekap. Sungguh , Mahmud tak sanggup membayangkan mengapa laki – laki lembut itu , tega hendak membunuh keluarganya.

            “Aku ingin menceritakan semuanya padamu, Mahmud. Karena engkau  mempercayaiku , maka aku pun mepercayaimu.”
“ tempat ini adalah tempat yang bersejarah bagiku. Saat kembali dari mesir bersama ummimu,
Tempat ini yang pertama aku kun jungi. “Sayang, abi mu telah gagal menyiasati orientasi hidup itu. Kelurga abi adalah pengusaha kaya di turki. Bahkan saham terbesar Hotel Harbiye dipegang oleh Roza Hezkil , dayi yang terbesar.
            “Saat persalinan adikmu, Abi tahu kalu ummimu menitipkan bayinya kepada orang lain.
Tapi sungguh , abi hanya perlu surat keterangan dari dokter yang menjelaskan bahwa bayiku telah meninggal.









Murat tersenyum mendengar seloroh Mahmud. “ semangatmu yang membuat Abi bertekad untuk kembali hidup normal. “ Para mafia itu menyebarkan berita bohong kepada Poli Turki , seolah – olah Abi adalah Bandar pengerdar obat terbesar . Abi akhrnya sadar kalau gerak – gerik abi diawasi. “ Beberapa hari setelah itu , aku tahu bahwa kalian selamat .
Aku bersyukur . Allah menyelamatkan kalian.
            Izinkan aku menangis , abi. Bukan karena cengeng . namun , aku sedih tak dapat meyelamtkan mu . Mahmud kecewa .Ia ingin semua tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Namun lelaki yang di carinya jauh-jauh dari mesir itu meninggal dengan tragis. Sebelum ia menyaksikan kebahagian di mata umminya . Agar tak ada lagi salah sangka dan praduga . tapi allah berkehendak lain. Dan ia mesti menerima keputusan ini.
“ mengapa kalian membunuhnya ? “ Mahmud berteriak sejadi  – jadinya.
            Dan pencaharian Mahmud mempertemukannya dengan gadis benama Hameda. Ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Namun masih banyak misteri yang harus diselesaikan. Ketika akhirnya Mahmud bertatap muka dengan Zahra yang di rindukan, perempuan itu terlihat sangat ketakutan, bahkan berlagak tak mengenalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar