Senin, 24 Oktober 2011

Selamat malam cinta

By: Dwiyono Hadi


Banyak yang bilang cinta punya mata indah, mata para peri. Gadis dengan penampilan sportif itu juga memiliki hati yang baik. Jika peri – peri dalam dongeng itu benar adanya dan berhati sangat baik, maka cinta mewarisi sedikitnya setengah kebaikan hati mereka.
Sebagai remaja tentu saja cinta tak lepas dari sikap – sikap seperti umumnya gadis berusia enam belas tahun. Kadang – kadang tingkah laku isengnya timbul, tapi sejauh ini rasanya tak pernah sampai menyakiti orang lain.
Sang peri, jika ingin menyebut gadis manis itu sebagai peri, memang tumbuh sendiri. Sepi. Dalam rindu yang tak ia mengerti. Kasih yang ia bias rasakan kehangatannya hanya berasal dari dua tangan tua milik emban, Mbok Nah.
Enam belas tahun ia belajar membela dirinya hanya berdasarkan naluri. Enam belas tahun! Waktu yang cukup panjang untuk mengetahui kapan dia harus bersikap agresif, kapan dia harus reaktif, kapan dia harus…. Menyerang.
Beberapa kali cinta menunjukkan koleksi barunya kepada papa. Meski hanya melirik sebentar, ternyata papa cukup peduli. Ini buktinya, setiap kali papa pulang dari perjalanan bisnis, lelaki itu tidak hanya membawa perangko, tapi juga uang kertas dan koin – koin kuno yang unik. Bagi cinta itu lebih berarti dibanding barang – barang bagus lain yang dibawa papa untuk saudara tirinya.

Dan sekarang menjelang enam belas tahun, cinta sudah punya banyak foto ibu teman – temannya. Semua tersenyum ramah. Semua menatapnya dengan mata berbinar. Semua memantulkan kasih sayang. Semua mendengar keluh kesah dan kesedihannya.
Sejak itu cinta sering tertidur dengan foto – foto terserak di dekatnya. Sebagian berada dalam pelukannya, sebagian lagi terkadang menempel di dahi, member cinta ciuman sebelum tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar