Senin, 24 Oktober 2011

Pudarnya Pesona Cleopatra

By: Amelia

     Tak terasa air mata ku mengalir, dadaku sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam isak tangiskusemuah kebaikan raihana selama ini terbayang. Wajahnya yang teduh dan baby face, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putus, suaranya yang lembut, tangisnya mengalirkan perasaan haru dan cinta. Ya cinta itu dating dalam keharuan ku. Dalam keharuan terasa ada hawa sejuk dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu, pesona kecantikan Cleopatra memudar …
                Segara kukejar waktu untuk membagi cintaku pada raihana, membagi rinduku yang tiba-tiba memenuhi rongga dada. Air mata ku berderai-derai , ku kebut kendaraan ku.ku pacu kencang diiringi derai air mata yang tiada henti manetes di jalanan. Aku tak peduli , aku ingin segara sampai dan melupakan rasa cinta ini padanya, yang berhati mulia, begitu di halaman rumah mertua nyaris tangis ku meledak dengan mengambil nafas panjangdan mengusap , melihat kedatangan ku ibu mertua serta merta ikut menangis tersedu-sedu. Aku jadi haran dan ikun menangis  .
“mana raihana bu ?
Ibu mertuanya hanya menangis dan menangi. Aku terharu apa yang sebenarnya yang terjadi.
“istrimu, raihana instrimu dan anakmu yang di kampungnya.
“ada apa dengan dia !
Aku ingin raihana hidup kembali , hatiku perih tiada terkira dunia tiba-tiba gelap semuah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar