By: Naufal Dimasyki
“Ini... puisi-puisi terakhir dia,” kata ibu lunna seraya mengulurkan masing-masing untuk Icha,Alin,Cannie,dan Cassy. “Ginna, ini.”
Ginna mendongak dan menatap kaget si ibu. “saya?” tanyanya tak percaya. Ibu lunna hanya mengaangguk. “kata lunna, kamu membuat sisa hidupnya sangat berarti. Dia selalu bilang begitu.”
Ginna menyambut surat itu, tak sanggup lagi menahan tangis saat melihat kalimat pertamanya: Untuk sahabat
Untuk sahabat
Lupakah aku mengucap maaf?
Atau sekedar “terima kasih”
Untuk yang berarti dalam hidupku
Walau tak cukup banyak cerita untuk di saksikan
Tapi terlalu banyak permohonan untuk didoakan
Dan mimpi-mimpi tuk diwujudkan
Walau terbentang segala yang merintangi
Kau dan aku, kita tetap satu
Untuk sahabat......
Bila wujudku tak lagi nyata
Dan nafasku tak lagi bersamamu
Bila jasadku yang utuh sudah melebur
Dan ragaku telah hancur
Bila waktuku terbatas sampai detik ini
Dan ruanganku tak sama denganmu
Ingatlah aku, sahabat
Kau dan aku, kita tetap satu
Karena dengan itu
Kan kulanjutkan hidupku
Lunna Vania
“Lunna,” gumam Ginna. “Lunna Vania.” Tiba-tiba ia tersentak. SMA X. Lunna Vania. Ginna memutar kembali semua ingatan tentang Lunna. “god!” Ia membelalakan mata, terkejut karena kebodohannya selama ini.
“Dave, kita ke SMA X dulu,” pintanya
“Tapi nanti kamu ketinggalan pesawat lagi,” kata Dave setengah memelas. Ginna tak perduli.
“Please, Dave. Aku nga tenang kalo belum kesana.” Akhirnya Dave mengangkat bahu, lalu menuruti kemauannya. Mango hanya terdiam dibelakang, tak sanggup mengatakan apa-apa.
Setibanya di tempat tujuan, Ginna melompat turun diikuti Dave dan Mango. Ia berlari ke mading dan menemukan sebuah puisi di sana.
Pemenang lomba puisi tahun 2006
Siapakah Aku
Kegelapan menatap lembut hari-hariku
Kehampaan menyapa hidupku dengan hangat
Kekosongan mengisi setiap lembar dalam hariku
Siapakah aku dalam kepasrahan ini?
Berjalan kulepas dengan tetesan air mata
Bebas, tanpa arah, ku memberontak
Siapakah sku dalam keputus asaan ini?
Aku yang kehilangan separuh jiwaku
Ku cari, kutemukan, namun kulepas
Kediamanku membodohi dalam ketidak percayaan
Demi sesaat, kulepas mereka yang abadi
Siapakah aku dalam kebisuan ini?
Tuhan....
Saat ku yang tanpa arti
Kembali ku bersujud memohon
Tetap kusyukuri yang ada
Tapi kuharap keheendakMu adanya kehendakku
Menopangku kembali seperti kehampaan ini datang
Dan ku kan menjawab yang berati
Kali kedua ku bertanya
Siapakah aku?
Linna Vania
Ginna menatap tak percaya. “Gue bego!! Kok gue nga sadar dialah orangnya?” Dia menatap surat Lunna dengan tak berdaya, terpuruk dan terduduk di sana, bersama Dave yang terus menghiburnya.
Mango menatap puisi itu tanpa ekspresi. “Ini puisi Lunna.”
“Iya. Puisi Lunna,” kata seseorang di belakang mereka.
Icha, Alin, Cassy, danCannie bersiri disana membawa bertumpuk-tumpuk kertas, satu bola basket, dan puluhan piala. Mereka berjalan menuju lapangan, meninggalkan Ginna yang bingung tak mengerti. Mango menyusul mereka, menatap kosong lapangan basket itu. Dia ingat pernah berbicara dengan Lunna di sini.
“Apa yang kalian lakukan?” tannya Mango
“Kami mau membakar sertifikat Lunna, pialla, dan benda kesuaannya bola basket,” kata Cannie singkat. Mango mengernyit tak mengerti.
“Kenapa dibakar?” tanyanya lagi
“Soalnya.... kami mau, di surga nanti, dia bisa punya kebanggaan. Supaya malaikat-malaikat di surga tau, dia itu manusia baik di dunia. Supaya... dia tetapingat kenangan-kenangan di sini, bersama kami,” Cannie menjelaskan panjang lebar. Merka sangat tenang, sama sekali tidak mengeluarkan air mata, seakan tidak terjadi apa-apa.
Api berkobar menjilat semua dengan rakus. Mereka mengamati sambil berdoa supa Lunna diterima di sisi Tuhan.
“Cuma satu yang nggak kami bakar,” kata Cannie lagi. Alin mengangguk. “Piala terakhirnya yang akan dikubur bersama dia, kemenangan terakhirnya,” kata Alin.
Mango termangu marah menatap Alin. Akhirnya dia berkata, “ Dihati gue dia selalu menang. Dia selalu memenangkan hati gue. Selalu!” serunya menahan emosi. Lalu dengan pedih dikeluarkannya secarik kertas kecil peninggalan Lunna yang terakhir.
“Dan aku akan melanjutkan hidup tanpa pernah melupakanmu. Semoga kau menerimanya di surga.” Lalu Mango melempar kertas itu, yang disambut lembut oleh sang api. “ku kan meminta Tuhan agar para malaikatNya menemanimu kala aku tak bisa bersamamu. Sampai jumpa lagi Lunna. Bila mimpiku di dunia telah usai, aku akan pergi ketempatmu....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar