Senin, 24 Oktober 2011

Pudarnya Pesona Cleopatra

                                                  By; Tezar Baskoro


Ini nikmat ataukah azab??
                “Harus dengan dia, tak adaa pilihan lain!” tegas ibu
                Beliau memaksaku untuk menikah dengan gadis itu, Gadis yg sama sekali tak kukenal. Sedihnya, aku tiada berdaya sama sekali untuk melawannya. Aku tak punya kekuatan untuk memberontaknya. Sebab setelah ayah tiada, bagiku ibu segalanya.
Hari pernikahan itu datang. Aku datang seumpama tawanan yg digiring ke tiang gantungan. Lalu duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa dan tanpa cinta. Tepat dua bulan setelah pernikahan, kubawa Raihana ke rumah kontrakan. Mulailah nyanyian hampa kehidupan mencekam. Aku tak menemukan adanya gairah. Hari-hari indah pengantin baru, mana? Mana hari-hari indah itu? Tak kurasakan! Yang kurasakan adalah siksaan jiwa yg mendera.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana. Aku sendiri tidak tahu dari sulitnya. Rasa tidak suka itu semakin menjadi-jadi.  Aku tak mampu lagi meredamnya. Namun aku mencoba bersikap bersahabat pada Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra padanya. Allah MahaKuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai istri ternyata membuahkan hasil. Raihana hamil.
Namun hatiku… oh, hatiku menangis meratapi cintaku yg tak kunjung tiba. Aku takut bahwa aku nanti tidak bisa mencintai bayi yg dilahikan Raihana. Bayi yg tak lain adalah darah dagingku sendiri. Saat usia kehamilannya memasuki usia enam bulan, Raihana meminta izin untuk tinggal bersama kedua orang tuanya dengan alas an kesehatan. Kukabulkan permintaannya dan kuantarkan dia kesana.
Setelah Raihana tinggal di tempat ibunya, aku merasa sedikit lega. Aku tidak lagi bertemu setiap saat dengan orang yang ketika melihat dia aku merasa tidak nyaman. Hingga pada suatu hari, aku bertemu dengan  Pak Qalyubi, Dosen bahasa Arab dari Medan. Yg menyadarkanku tentang hidup ini, bahwa tak ada yg sempurna di dunia ini. Bahwa kita harus mengsyukuri apa yg telah kita dapat. Termasuk menghargai dan mencintai wanita yg telah kita dapatkan.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku sesak oleh rasa haru yg luar biasa. Dalam isak tangisku semua kebaikan Raihana selama ini terbayang. Ya, cinta itu datang dalam keharuanku. Dalam keharuan terasa ada hawa pesona turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu, pesona kecantikan Cleopatra memudar…..
…Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku pada Raihana. Membagi rinduku yg tiba-tiba memenuhi ronga dada. Air mataku berderai-derai. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang diiringi derai air mata yg tiaa henti menetes. Aku ingin segera sampai dan meluapkan semua rasa cinta ini padanya. Padanya yg berhati mulia. Begitu sampai dihalaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak, kutahan dengan nafas panjang dan mengusap air mata. Melihat kedatanganku ibu nertua serta merta memelukku dan menangis terde-sedu.
“Mana Raihana bu?”
“Istrimu, Raihana dan Anakmu yg dikandungnya”
“Ada apa dengan dia?”
“Dia telah tiada”
Aku menangis tersedu-sedu . Hatiku sangat pilu. Ketika aku sedang merasakan cinta yg membara pada Raihana, ia telah tiada. Ketika aku ingin menebus semua dosa yg telah kuperbuat padanya, ia telah meninggal. Aku sudah terlambat. Dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku untuk selamanya tanpa memberikan kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya.
Ibu mertua mengjakku ke sebuah gundukan tanah masih baru. Diatas gundukan itu ada dua batu nisan. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru rindu dan penyesalan yg luar biasa. Aku menangis memanggil manggil namanya. Sukmaku menjerit-jerit, mengiba-iba. Aku ingin Raihana hidup kembali. HAtiku perih tiada terkira.
Dunia tiba-tiba gelap semua….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar